HAL-HAL YANG SAYA KETAHUI TENTANG BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI
| Jadwal Kuliah |
Saat SMA, saya
telah diberi tahu bahwa kuliah itu jauh berbeda dengan SMA. Hal yang paling
saya tahu yaitu kuliah tidak menggunakan seragam, sedangkan SMA menggunakan
seragam. Hal lainnya yang saya tahu yaitu jadwal belajar di kelas. Jika SMA
belajar dari pukul 07.00-14.00 WIB setiap harinya. Di perguruan tinggi,
jadwalnya tidak menentu. Setiap mahasiswa belum tentu mempunyai jadwal yang
sama. Setelah saya mengalaminya sendiri, ternyata masih banyak hal-hal yang
berbeda dengan SMA.
Jadwal kuliah
benar-benar berbeda dengan jadwal belajar di SMA. Ketika SMA, saya berangkat
jam 06.30 pagi bersama teman lainnya. Menunggu guru yang akan mengajar di dalam
kelas yang sama setiap harinya. Saat pergantian jam pelajaran, tidak ada
pergantian kelas, hanya ada pergantian guru yang masuk ke dalam kelas. Pelajaran
selesai pada waktu yang sama, sehingga untuk pulang bersama atau berkumpul
bersama untuk organisasi tidak sulit. Namun, jadwal kuliah saya berantakan,
hari pertama hanya ada satu mata kuliah yang masuk pukul 09.20. Hari berikutnya
ada dua mata kuliah yang masing-masing masuk pukul 07.40 dan pukul 12.40. Hari
lainnya malah penuh tiga mata kulih yang masing-masing masuk pukul 07.40,
19.20, dan 12.40. Jadwal kuliah tersebut berbeda-beda untuk masing-masing
mahasiswa. Perbedaan tersebut mengakibatkan sulitnya mengatur jadwal untuk
kegiatan di luar jadwal kuliah, seperti kumpul organisasi atau lainnya.
Hal lain yang saya
dapatkan dalam belajar di perguruan tinggi adalah dalam hal tugas. Saat SMA,
untuk mengerjakan tugas terbilang mudah. Saya hanya harus menyalin dari buku
paket yang tersedia, atau mencontoh dari pembahasan yang telah diberi oleh
guru. Tapi, di perguruan tinggi hal tersebut tidak terjadi. Dosen memberikan
tugas yang memang belum saya ketahui dan harus saya cari tahu sendiri.
Contohnya dalam membuat makalah, saya harus membuat makalah untuk pelajaran
yang akan dibahas minggu depan.
Dalam menyusun
tugas berupa makalah, ternyata tidak boleh sembarangan. Ketika di SMA, saya
mengambil materi dari berbagai sumber, baik itu buku atau internet. Namun, saya
lalai dalam menuliskan sumber tersebut. Ternyata, dalam penyusunan makalah juga
ada ketentuannya. Di mana dalam menyusun makalah saya harus mencantumkan sumber
yang falid dengan benar, bukan abal-abal seperti dari internet yang belum
terjamin kebenaran datanya. Dalam menyusun isi makalahnya juga tidak boleh melakukan
copy-paste baik itu kata-katanya apalagi seluruh paragrafnya.
Hal lain yang
begitu berbeda dari SMA adalah dalam ketersediaan buku untuk referensi belajar.
Di SMA, buku paket tersedia untuk setiap mata pelajaran dan buku tersebut
biasanya telah disediakan oleh sekolah. Namun, di perguruan tinggi saya harus
mencari sendiri referensi buku, di mana buku tersebut biasanya terbatas dan
hanya tersedia dalam bahasa asing.
Ketika SMA, guru perhatian terhadap nilai-nilai muridnya. Jika ada
murid yang nilainya jelek, guru lantas memberi tahu dan memberikan tugas untuk
menambah nilai. Begitu pula ketika mengajar di kelas, guru dengan telaten
menerangkan bagian demi bagian materi hingga murid mengerti. Namun, di
perguruan tinggi semuanya dikerjakan secara mandiri. Saya harus sudah mengerti
materi yang diajarkan sebelum dosen menerangkan hingga saya bisa mengikuti
pemaparan yang diberikan oleh dosen. Dalam hal nilai juga saya harus bekerja
keras sendiri. Jika ada nilai yang kurang, saya harus berinisiatif sendiri meminta
tugas untuk menambah nilai.
Telah saya
sebutkan di awal, jika yang membedakan kuliah dengan SMA adalah pakaian yang
dipakai. Ketika SMA, saya dengan rutin memakai pakaian seragam sekolah yang
telah ditentukan. Saya tidak perlu pusing harus memilih pakaiana apa yang akan
saya pakai. Saya juga tidak perlu malu ketika memakai seragam putih-abu selama
dua hari bahkan lebih. Namun, di perguruan tinggi sepertinya saya harus
mempunyai stok pakaian yang banyak. Dikarenakan tidak ada ketentuan seragam yang
harus dikenakan, saya pasti akan mengganti pakaian saya setiap hari, dan saya
kurang percaya diri jika menggunakan pakaian yang sama beberapa kali.
Salah satu hal
baik yang terasa adalah banyaknya teman kelas yang saya punya. Ketika SMA,
teman sekelas saya hanya 35 orang. Bertambah ketika saya mempunyai kegiatan di
luar kelas dan bertemu dengan teman di kelas lain. Namun, di perguruan tinggi
saya mempunyai banyak teman karena kelas yang berganti-ganti. Selain punya
teman sekelas dua kali lipat dari sebelumnya, ditambah juga dengan teman yang
saya temui di luar kegiatan belajar.
Mengikuti
organisasi di perguruan tinggi sangat dianjurkan. Bahkan dapat dikatakan hal
yang penting untuk dikerjakan. Kegiatan organisasi menjadi nilai tambah untuk
mengembangkan soft skill demi menunjang dunia kerja. Ketika di SMA,
kegiatan organisasi hanya menjadi nilai tambah yang tidak cukup besar
pengaruhnya. Namun, di perguruan tinggi menjadi nilai tambah yang berharga
untuk kedepannya.
Hal-hal baru yang
saya dapatkan di perguruan tinggi sangat bermanfaat untuk mengolah hard
skill dan soft skill saya. Hal tersebut membuat saya lebih mandiri,
bertanggung jawab, bermoral, beretika, jujur, dapat mengatur waktu, dan bekerja
keras.
Tugas Mata Kuliah Semester 1
(22 September 2015)
Komentar
Posting Komentar