CERPEN
Ini cerpen pernah di kirim ke STORY. Tapi belum dapat panggilan juga. Jadi ku post aja deh.
Cerpennya mungkin kurang bagus jadi gak lolos. hehe Tapi baca ya!(maksa)
Cerpennya mungkin kurang bagus jadi gak lolos. hehe Tapi baca ya!(maksa)
Teman
Dan Cinta Datang Bersama
“Sudahlah Mita, jangan
nangis lagi!” Nina menepuk punggung Mita lembut, ia membiarkan air mata Mita
tumpah di pundaknya.
“Tapi… hiks.. hiks..
aku kecewa sama Alvin.. hiks hiks” Mita terus menangis di sela ucapannya. Suara
tangisnya berirama dengan gesekan daun-daun terkena angin di atas mereka.
“Kenapa harus kecewa
sih, aku bingung..” Lina yang duduk di tembok tangga tak jauh dari pohon kenari
rimbun itu berujar dengan sangat jutek.
Mita menghentikan
tangisnya sesaat, menatap Lina yang ada di sampingnya,
“Kamu gak tahu apa-apa
sih… aku sakit, di putusin begitu aja.” Mita kembali mengeluarkan air matanya
dan kini duduk bersandar di bangku taman di sekolahnya.
“Iya ya? Kenapa kamu di
putusin? Kok kayaknya kalian gak pernah berantem?” dengan polos Lina
melontarkan pertanyaannya. Ia tak memperhatikan wajah Mita yang semakin
mendung, ia sibuk memperhaikan angin yang menggoyangkan daun-daun kenari dan
menggugurkannya.
“Udah, Mit… kamu jangan
dengerin omongan Lina, dia itu gak tahu tata cara berbicara yang baik.” Nina
menepuk pundak Mita, ia sangat mengerti perasaan Mita saat ini, tapi juga tahu
sifat teman barunya yang suka bicara ceplas-seplos.
“Lina, kamu jangan
banyak ngomong. Itu malah membuat Mita tambah sakit…” Nina menatap Lina dengan
sedikit mendongkak.
Lina yang agak takut
dengan tatapan Nina, turun dari tembok tangga dan menghampiri kedua temannya,
“Iya, oke… tapi aku
bingung, kenapa…..” nina tak melanjtkan kata-katanya, ia terlalu takut saat
mata Nina menatapnya tajam.
“Dia bilang, dia
mencintai orang lain setiap saat bertemu dan bersamaku.” Mita berkata lemah, ia
tertunduk dengan keing berkerut.
“apa coba arti
kata-katanya itu? Aku tak mengerti.”
Nina dan Lina saling
menatap, kemudian kembali pada pandangan masing-masing. Lina terlihat
menyunggingkan senyum misteriusnya, tapi Nina terlihat dengan raut yang lebih
misterius.
“Ya udah, dari pada
kamu nagis mulu. Kita main yuk!” Lina melonjak senang, seperti merayakan
sesuatu. Itu membuat kedua teman lainnya heran.
“Mita kan lagi sedih,
kalau kita main ke mall, mungkin bisa menghilangkan kesedihannya. Lagian kita
kan belum pernah main bareng sejak masuk sekolah.” Lina sedikit terbata
menjawab tatapan heran kedua temannya.
“Iya, itu ide bagus.”
Nina akhirnya menyetujui ide Lina. “Tapi, kamu jangan cemberut. Aku malu bawa
orang nangis ke mall.” Nina menatap Mita dan mengangguk tegas.
“Aku minta waktu ya.
Sampai kita tiba di sana aja.” Mita mengusap pelan air matanya. Kedua teman
lainnya mengangguk dan mereka segera beranjak dari taman sekolah di depan kelas
mereka.
“Nin, kamu yang nyetir
ya!” Mita memberikan kunci mobilnya lalu mausk ke jok belakang mobil bercat
biru langit. Nina menggeleng kecil lalu beralih menuju pintu kemudi. Sementara
Lina mengikuti Mita masuk ke jok belakang.
Suasana menuju mall
ternama di kota Tasikmalaya itu terasa sangat dingin, udara sore masuk ke sela
kaca yang terbuka dengan ketiga remaja yang diam tanpa kata menambah suasana
sepi.
“Sekarang hapus air
matamu.”Lina menyentuh pipi Mita dan mengoleskan bedak miliknya.
“Apaan sih, aku gak di
kosmetik, Lin.” Mita menepis tangan Lina.
“Kamu mau terlihat
pucat saat keluar? Aku gak mau bawa orang yang habis nangis ke mall.” Lina
terus mengoleskan bedaknya di wajah Mita. Dengan wajah cemberut Mita
menerimanya.
“Jangan cemberut Mit,
itu akan membentuk kerut di wajahmu.” Nina sesekali menatap dari kaca spion di
atasnya.
````
Semua siswa berhamburan
keluar dari kelas mereka dengan semangat. Bel yang berbunyi nyaring seakan
telah membebaskan mereka dari pembelajaran yang memenjara mereka. 3 siswi
berjalan beriringan keluar dari kelasnya.
“Hei, kita jadi kan
jalan-jalan?” Mita melonjak riang kea rah kedua temannya.
“Ayo! Ke toko buku ya?
Ada yang mau ku beli.” Nina merangkul pundak kedua temannya dengan leluasa.
Tapi, Lina terlihat agak risih, ia segera keluar dari lingkaran tangan Nina.
“Maaf ya, Mit, Nin, aku
gak ikut…” ucapnya dengan masih memainkan Handphone di tangan kirinya. Mita dan
Nina saling pandang. Lalu, pandangan mereka beralih ke arah sisi kiri mereka.
“Kenapa?” tanyanya
serempak.
Lina sedikit ragu, ia
memotar bola matanya, berpikir.
“Oh, sepupuku datang
dari Jakarta. Dia mau menjemputku.” Lina mengacungkan tangannya dengan ceria
karena menemukan jawaban yang tepat.
“Sepupumu? Nela?” Mita
sedikit mendahului langkah kedua temannya untuk bisa bertatap langsung dengan
Lina.
“Iya,” Lina mengangguk
pelan. Mita menatap Nina dan bertanya dengan matanya.
“Ya udah, gak apa-apa
kamu gak ikut juga, kamu kan sudah lama tak bertemu dengannya. Kita pergi
berdua saja.” Nina meminta persetujuan dengan alis mata yang terangkat dan Mita
mengangguk kecil.
Mita mengeluarkan kunci
mobilnya saat tiba di parkiran.
“Mau kita tunggui,
Lin?” ia bertanya dengan tangan sibuk mengarahkan remote kunci ke arah
mobilnya.
“Gak usah, kalian pergi
aja. Agak sedikit lama kayaknya.” Lina berujar pelan dengan kaki yang terus
dimainkannya.
“Kita tungguin ya,
kasian kamu di sini ssendirian.” Nina bersiri di ambang pintu samping kemudi
yang sudah terbuka.
“Ga usah gak usah…
kalian pergi aja..” Lina mengubas-ngibas tangannya tergeesa, sesekali ia
memperhatikan sekelilingnya.
Dengan wajah bingung,
ina dan Mita masuk ke dalam mobil. Mita menyalakan mesin mobil dan sesekali
mengikuti arah tatapan Lina. Nina melambai ke arah Lina yang sudah tak
memperhatikan mereka.
“Lina aneh,” Mita
menjalankan mobilnya pelan menuju gerbang sekolah.
“Udahlah, jangan
dipikirin,” seakan tahu kekhawatiran Mita, Nina menepuk pundak Mita pelan. Nina
meilrik kaca spion melihat situasi di belakang mereka. Nina menyadari sesuatu
yangyang disembunyikan Lina. Tapi, ia tak bisa memberitahu Mita akan hal ini.
Nina berpiki bahwa ini tak usah Mita ketahui. Nina menatap Mita yang kini focus
menatap jalan di depannya dengan sedikit mempercepat laju mobilnya. Nina tak
menyadari perubahan ekspresi Mita saat ia menyadari seseorang yang menjemput
Lina, bukanlah Nela, saudara perempuan Lina. Melainkan sebuah motor ninja yang
amat Mita kenal.
Jalan yang begitu
bising dengan suara deru mesin dan klakson yang saling bersahutan berbanding
terbalik dengan suasana di dalam mobil berwaran biru cerah.
“Mit, kamu baik-baik
saja?” Nina yang sedari tadi menatap Mita begitu khawatir karena Mita begitu
tak menyadari lampu merah di depannya.
“Tidak, aku tidak
apa-apa.” Mita sedikit membuang nafas. Ia meremas poni yang menjuntai di
pelipis matanya.
“Nin, kayaknya aku
tidak bisa mengantar..”
“Kamu sakit?” Nina
menatap khawatir. Mita tersenyum kecut. “Maaf ya …” Mita tak mampu menatap Nina
saat mengatakan itu.
Nina tertawa mengerti.
“Baiklah, belok kanan sebelum mobil di belakangmu mengklakson..”
Mobil itu melaju
meninggalkan sebuah plang lurus berlabel Asia Plaza.
“Kamu istirahat ya,
sepertinya kamu kurang enak badan.” Nina tidak langsung masuk ke rumahnya. Ia
melongokan wajahnya ke kaca mobil yang sengaja ia buka sebelum turun. Mita
tersenyum tulus melihat perhatian Nina.
“Maaf ya Nin, “sekali
lagi Mita meminta maaf dan sedikit membuat Nina jengkel. Nina memasang wajah
manyun dengan posisi sedikit nungging.
“Kau jelek…” Mita
mendorong wajah Nina dan lekas menutup kaca mobil samping kemudinya itu.
“Aku pergi dulu ya….
Dadah!” Mita melambaikan tangannya dari dalam mobil. Ia terlihat berusaha
menampilkan wajah cerianya. Tapi itu tak bisa ditutupi dari penglihatan Nina
walau terhalang kaca hitam di depannya.
Nina menatap mobil yang
melaju dengan sangat lambat sampai ia belok kiri di pertigaan jalan.
“Dia salah jalan…”Nina
bergumam kecil dan masuk ke dalam kamarnya dengan wajah sedih.
``````
“kita pulang saja ya, Al..”
Lina bergelayut manja di lengan Alvin yang sedang memgang stang motor
kesayangannya. Alvin melirik sedikit ke belakangnya,
“Memangnya kenapa?”
“Nina dan Mita mau ke
mall, aku tak bisa membayangkan jika nanti mereka melihat…” Lina tak meneruskan
perkataannya, ia hanya bersembunyi di balik punggung Alvin. Alvin hanya
tersenyum kecil dan helmnya sedikit bergoyang tanda ia mengangguk.
“Makasih ya Al….” Lina
turun dari motor Alvin dan menyerahkan helm yang tadi di pakainya.
Keduanya diam dan
saling menatap.
“Ada apa?” Lina tersipu
diperhatiakn seperti itu oleh mata elang Alvin.
“Tidak.” Alvin terus
memandang wajah Lina. “Hanya saja, kamu telah membatalkan janji kita.”
Lina mengerucutkan
bibirnya. “Lalu?” tanyanya manja.
“Kau harus memberiku
hadiah, setidaknya.”
Mata Lina berputar, ia
tak mengerti apa yang Alvin katakan.
Cup….
Sebuah kecupan mendarat
di pipi kanan Lina, sontak ia memegang pipinya yang sedikit basah itu. Alvin
tersenyum penuh kemenangan.
“Terimakasih ya…
masuklah….” Alvin kembali mengenakan helm yang senada dengan motor ninjanya. Ia
tak memperdulikan Lina yang masih diam mematung.
“Bye…” Alvin
melambaikan tangannya dan berlalu dari hadapan Lina.
“Ia menciumku? Iya, dia
menciumku.. Ahaha..”Lina berlonjak riang sambil terus memgang pipinya. Ia melenggang
masuk ke rumah dengan kaki yang terus berjingkrak riang. Tak disadarinya
tatapan mata yang tajam dan basah menembus kaca mobil yang hitam dan tebal.
Sepasang mata lentik itu mengeluarkan banyak air tanpa tertahan, lalu menutup
sangat rapat dan tersembunyi rambut yang menjuntai menutupi wajahnya. Mita
menyembunyikan kesedihannya dalam, bertopang pada kemudi mobilnya. Sungguh,
rasanya sakit sekali. Lebih sakit dari kejadian seminggu yang lalu, saat ia
diputuskan oleh Alvin.
Setelah berusaha
mengendalikan perasaannya untuk beberapa saat, walau masih berurai air mata
Mita menyalakan mesin mobil dan berlalu dari tempat itu tanpa melirik kea rah
rumah yang biasanya selalu ia singgahi itu. Ia bahkan ta menyadari motor dan
orang yang sama berada tepat di pinggir jalan sedang bersama seseorang.
``````````
Malam menampakkan
kekelaman langit. Hawa dingin seakan membuka terangnya bulan yang sangat
terbatas. Memang, suasana hai dpat mempengaruhi penglihatan sebuah keindahan.
Itulah yang dirasakan 3 orang gadis yang berada di tempat berbeda.
Mita, terlihat muak dan
memalingkan wajahnya dari langit yang gelap-gulita. Baginya, langit itu bagai
layar bioskop yang sedang memutar perjalanan hidup yang ia lalui. Di mulai dari
Alvin yang meminta jadi pacarnya, tentang kebahagiaannya yang dirasakan hanya
kurang dari 2 bulan. Dan air matanya mengalir begitu ingatannya sampai pada
saat Alvin memutuskannya dengan alasan “Cintaku berpaling sama orang lain saat
aku bertemu denganmu.” Mita tersenyum miris. Kini ia tahu arti dari kata-katanya.
Mita menutup tirai jedelanya dengan kasar, ia tak mau mengingat kejadian tadi.
Kejadian yang begitu menguras air matanya. Ia, tak dapat mengatakan apakah ia
sakit oleh Alvin atau oleh Nina.
Langit terlihat sangat
meriah dihiasi bintang-bintang yang menyinari wajah Lina. Ia begitu bahagia.
Hingga bintang seakan ikut merayakannya. Kedua tangannya terus memegang pipi
kanannya dengan lembut. Ia di mabuk cinta, ia sadari itu. Melayang-layang wajah
maskulin Alvin yang tersenyum kearahnya. Pikirannya kini hanya tertuju pada
pemuda yang telah menguasai hatinya seja ia mengenalnya dari Mita. Setiap Mita
bertemu Alvin, disitu ada kontak mata antara Lina dan Alvin. Seakan saling
berbicara lewat mata batin mereka.
Namun, hal lain
dirasakan Nina. Langit terlihat kelabu, terlihat titik-titik air turun
membasahi hati Nina. Pikirannya kalut, ia tak bisa memikirkan semanya. Semuanya
yang terjadi dimulai dari MOPD 3 bulan yang lalu, saat pertemuannya dengan Mita
dan Lina, adalah awal kehidupan barunya yang begitu, kelabu. Nina begitu
menyesal memperkenalkan Alvin pada Mita. Dan ia menyesalkan kenapa saat Mita
dan Alvin bertemu, ia dan Lina harus selalu ikut. Jika itu tidak dilakukan,
maka ini tak perlu terjadi. Batinnya. Langit kini membasahi pekarangan rumah
Nina. Matanya kembali memutar kejadian sore tadi di toko buku. Ia melihat
pemandangan ganjil di depan matanya. Yang ia lihat memang hanya seorang wanita
yang merangkul manja pinggang seorang pemuda. Yang ganjil, bukankah gadis itu
Nela? Nina tak dapat mengedipkan matanya saat melihat siapa pemuda jangkung
yang membelai rambut Nela mesra. Nina menelungkupkan wajahnya di bingkai
jendela. Ia tak peduli pada air yang membelai kasar rambutnya.
```````````````
Langkah kasar keluar
dari pintu mobil avanza biru yang terparkir di belakang sekolah. Orang yang
masih di dalam mobil hanya saling memandang tanpa gairah.
Plak..
Sebuah tamparan
mendarat di kulit putih Alvin. Mata elangnya memandang tak mengerti pada orang
di depannya.
“Kamu kenapa Nin?”
dengan masih memegang pipinya yang perih Alvin maju lebih mendekatkan wajahnya
ke hadapanNina.
“Kamu apa-apaan?” mata
elangnya membulat.
“Menurut kamu?” Nina
membalas tatapan Alvin tajam.
Keduanya terdiam, para
siswa yang melihat kejadian di lapangan basket itu saling berbisik satu sama
lain. Berbeda dengan 2 orang siswi yang baru keluar dari mobil, mereka langsung
berlari ke tengah lapang dan berdiri di belakang Nina.
“Nin, kenapa kamu
ngelakuin itu?” Mita menyentuh pundak Nina yang mengeras.
“Kamu jahat banget
sih?” Lina yang masih berdiri di belakang Nina memandang Alvin dengan sayang.
Ia tak ingin siapapun menyakii lelaki yang di cintainya. Tapi, itu semua ia
sembunyikan demi kedua sahabatnya.
Alvin membuang muka, ia
tersenyum sinis lalu, melangkah berlalu. Nina tak tinggal diam, di mengejar dan
meraih tangan Alvin sampai Alvin kembali membalikkan tubuhnya.
“Ada apa sama kamu?
Kamu tahu kamu gak pantas melakuakn hal tadi. Kita udah putus. Dan kamu gak
berhak melakukan itu.” Alvin berkata keras di hadapan Nina. Perkataan itu semua
tertangkap jelas oleh MIta dan Lina yang langsung membulatkan mata mereka dan
berujar bersama, “APA?”
```````
To: Nina
Kamu jujur sama aku, apa yang
sebenarnya terjadi?
Pesan dari nomor yang
sama terkirim beberapa kali. Nina tak bisa menjawabnya langsung karena di
depannya Pak Burhan yang terkenal killer sedang menjelaskan pelajarannya dengan
lantang.
Nina memandang Lina
yang memberikan secarik kertas dengan hati-hati.
Apa
kamu pacaran sama Alvin?
Ya.
Sejak
kapan?
SMP.
Kelas 3.
Kenapa
gak pernah cerita?
Bel tanda akhir
pelajaran berbunyi. Tanpa bas-basi Pak Burhan keluar dengan cepat.
Lina memandang Mita.
“Nanti istirahat aku
jelasin ya.” Nina berkata kecil, ia juga mengirim pesan yang sama pada Mita
yang berbeda kelas dengan mereka berdua.
Sementara itu, Mita tak
bisa berpikir saat pelajaran Matematika berlangsung, ditelinganya terngiang
ucapan Alvin yang begitu tak terduga. Ia tak habis pikir jika Nina dan Alvin
adalah pasangan kekasih sebelumnya. Ia tak sabar ingin mendengar penjelasan
langsung dari Nina saat jam istirahat tiba.
Layar handphone yang
mulai meredup terus Nina tatap. Sudah lebih dari satu menit Nina membiarkan
pesan yang telah ditulisnya. Dengan satu tarikan nafas panjang Nian mengirim
pesan tersebut. Ia keuar dari toilet tanpa memeriksa apakah pesannya terkirim
pada nomor yang dituju.
Mita dan Lina terdiam
tanpa senyum. Mereka berdua sibuk dengan minuman msaing-masing.
“Li, apa Nina udah
cerita?” Mita tak sabar dengan Nina yang malah pamit ke toilet sebelum ia
menepti janjinya. Lina menggeleng pelan.
“Maaf ya!” Nina duduk
di hadapan mereka berdua. Kedua temannnya menatap dengan tatapan jengkel. Nina
menarik nafas panjang, ia sebenarnya tak ingin menceritakan hal pribadinya
seperti ini. “Baiklah, aku akan menceritakannya.” Nina menarik nafs panjang. Ia
mulai menceritakan masa SMPnya, teman-temannya dan hubungannya dengan Alvin.
“Apa? Kamu satu sekolah
sama Alvin?” Mita terbelalak kaget.
“Kok aku gak tahu ya?”
celoteh Lina. Nina ersenyum menanggapi ocehan kedua temannya. Ia kembali
menceritakan saat ia lulus dan memilih sekolah ini, SMA 1 Karang Resik. Dan
perjalan sampai ia dekat dengan Alvin.
“Tunggu, kamu bilang
kamu barudeket sama Alvin pas daftar ke sini?” Mita mengoreksi. Nina
mengangguk. ”Jadi?”
“Aku ditembak Alvin pas
kita berdua diterima di sini.”Nina menunduk, ia tak mau melihat ekspresi kedua
temannya. Ya, kedua temannya sangat terkejut. Hingga hanya bisa terdiam dengan
mulut yang terbuka lebar.
“Hei, ikut aku!” Tangan
Nina ditarik oleh Alvin yang tiba-tiba muncul. Nina meronta, tapi mustahil ia
bisa lolos dari genggaman tangan kekar Alvin. Mereka tiba di taman belakang
sekolah.
“Kamu apa-apaan. Gak
ada kerjaan!” Alvin mencengkram tagan Nina semakin erat.
“Buat apa kamu merusak
hubungan orang lain. Kamu cemburu? Kalau gitu, kenapa kamu gak bilang sejak aku
pacaran sama Mita.”Alvin menarik nafas panjang. “Kamu tahukan aku ngincar Lina?
Aku udah jalan sama Lina. Terus kenapa kamu baru ngumbar semuanya saat aku sama
Lina? Apa kamu baru dapat bukti aku jalan sama Nela?” Alvin memperlihatkan
pesan yang Nina kirim beserta sebuah foto.
“Nela?” Lina berjalan
mendekat ke arah Alvin dan Nina. “Apa maksudnya?”
Alvin memandang Nina
bingung. Lina merebut handphone dari genggaman Alvin dan melihat apa yang
terpampang. Mata Lina basah, “Ini Nela. Sepupu aku. Kamu kenal dia?” Lina
menatap Alvin lekat. Alvin mendengus kesal. “Ya. Aku kenal dia berkat kamu
memperkenalkan aku padanya. Kamu ingatkan saat kamu menelponnya lewat HPku?”
Plak..
Tamparan keras terarah
tepan di pipi kiri Alvin. “Kamu jahat!” Nina berlari meninggalkan tempat itu.
Alvin memandang Nina dan Mita yang masih berdiri di tempatnya.
“Semoga ini bisa jadi
pelajaran untukmu.” Mita melangkah mendekat.
Plak….
Sebuah tamparan di
daratkannya di pipi sebelah kanan.
“Aku duluan Nin.” Mita
berlalu tanpa menoleh lagi. Alvin tersenyum kecut menyentuh kedua pipinya. Nina
tersenyum menantang
“Kamu yang sabar ya,
Vin. Semoga ini bisa jadi pelajaran buatmu. Kalau..” Nina memegang tangan
Alvin, menyingkirkannya dari wajah Alvin yang memerah.
Plak.. Plak…
“Kamu itu jangan
macem-macem lagi sama perempuan.” Nina berlalu dari hadapan Alvin yang kini
memegang kedua pipinya dengan amat menyakitkan. Ia mendengus kesal.
``````
“Mit, aku minta maaf
ya!” Lina memainkan kakinya sambil duduk di tembok tangga yang cukup tertinggi.
“Untuk apa?” Mita
menengadahkan kepalanya.
“Semuanya.
Kebohonganku. Sikapku.”
“Aku gak marah sama
kamu. Itu wajar. Aku juga merasakannya. Saat laki-laki itu menggodaku untuk
dekat dengannya saat aku dikenalkan seseorang.” Mita melirik Nina yang duudk di
sampingnya. Nina mengalihkan wajahnya dari daun-daun yang menghijau diatasnya.
“Jangan berbicara
seperti itu.” Nina terlihat berpikir.
“Seharusnya ak yang
minta maaf. Memendam sendiri rahasia tentang semuanya.”
“Tidak!” Nina dan Lina
berujar serempak. Lina turun dengan satu loncatan. Ia berjalan menghampiri Nina
dan Mita. Lantas bersandar pada pohon kenari yang cukup besar.
“Kamu gak mau menyakiti
hati kita kan?” ia berujar pelan.
“Yang penting kita
tetap bersama kan?” Mita berdiri dan meraih tangan Nina. Mereka menyatukan
tangan mereka diudara.
“Kita baru kenal. Jadi
harus lebih memperdalam sikap masing-masing. Oke?” Nina tersenyum mendengar
kata-katanya sendiri.
Mereka saling
berpelukan.
“Kita harus saling
terbuka. Dan jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi.” Lina berbisik pelan.
Mita melepaskan
pelukannya.
“Bagaiamana dengan
kasus Nela?” ia bertanya polos. Nina berpikir sejenak.
“Biarkanlah, dia masih
polos.” Ujarnya dengan sangat lucu yang diiringi tawa ketiganya.
Komentar
Posting Komentar