Hidup yang paling malang

.
.
.
Jika ditanya, hidup siapa yang paling malang ?
.
.
.
Saat ini, dengan mantap ku jawab, "Hidupku yang paling malang."
.
.
.
Saat ini, setelah 20 tahun berlalu, beberapa tahun belajar memahami, dan beberapa bulan merenungi.
.
Aku mantap mengatakan, tak ada ada yang hidupnya lebih malang dari ini.
.
Apa karena aku orang yang begitu ceroboh ? Selalu kehilangan hal, bagian, dan momen paling penting di saat tergenting ? Seolah ada ada sesuatu yang menutupinya sehingga terabaikan oleh akal sehat dan jiwa yang berusaha selalu kuperbaiki.
Bukan, itu hal biasa.
.
Apa karena aku orang paling malas ? Selalu menyempatkan diri bermimpi hal-hal besar, penuh dengan akhir bahagia untuk bumi ini. Namun, saat terbangun hanya termangu tak bergerak ?
Tidak, bukan alasan tepat untuk itu ?
.
Apa karena aku orang paling sial ? Selalu bersemangat memulai hal baru dengan cekatan, namun melemah di tengah jalan, dan berakhir kecewa di ujung perjalanan ?
Entah apa yang menyebabkannya, selalu seperti itu, tapi itu bukan kemalangan terbesar kan ?
.
Apa karena aku orang paling masa bodo ?
Selalu optimis pada berbagai praduga, mengatakan aku bisa, kamu bisa, kita pasti bisa, meremehkan kegagalan, namun akhirnya selalu gagal. Bodo nya karena menganggap kegagalan itu hanya angin lalu.
Kuyakin bukan itu alasannya.
.
Apa karena aku orang paling tak berguna ?
Merepotkan yang namanya orang tua hingga umur setua ini, belum bisa membalas kebaikan mereka, hanya bisa memperburuk pikiran mereka, dan selalu memberi beban kepada mereka.
Sedikit menyakitkan memang.
.
Apa karena aku orang paling malang ?
Karena kemalanganku tak bisa diatasi dengan rutin mengikuti kelas motivasi, rajin menghadiri siraman rohani, giat menebar aksi membahagiakan orang lain, menyempatkan menghadiri kelas pengembangan diri, bahkan sering merenungi diri.
Saat melakukan semua itu, aku ringan, senyumku mengembang, proyeksi hidupku terang.
Setelah semua itu, hidupku kembali gelap, senyumku berat, dan aku sangat terpuruk.
.
Entah, apa yang membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya ke kedalaman samudera.
Saat sebelumnya terbang setinggi-tingginya ke langit ke tujuh.
.
Yang pasti, saat ini. Hidupku adalah hidup paling malang di kedalaman samudera.
Aku terangkat hanya oleh sibakan ombak tenang yang datang sesekali.
Sisanya, banyak terpuruk tersedak pasir kenyataan dikegelapan palung samudera.
.
Aoi Tirta
26/05/2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S GIRLBAND

[Review] Film A day with My Son / My son (2007)

Kuliah atau Organisasi?