Kamu dan Purnama
Bulan purnama bersinar sempurna di tengah gelapnya
malam. Persis seperti malam itu, saat kita masih bisa memandang purnama itu
bersama dengan tangan yang tertaut.
Malam itu, menjadi malam terakhir kamu tersenyum
kepadaku, kamu terus memegang erat tanganku, terus memeluk hangat. Ucapan yang
selalu kamu bisikan malam itu pun, hingga kini masih terngiang di benakku.
Ucapan yang kini telah terinjak oleh perbedaan diantara kita.
Aku sudah bertemu dengan 5 purnama yang begitu
terang, seperti memberitahukan, kamu bahagia sekarang. Aku hanya bisa memandang
purnama itu, untuk terus mengingatmu dan mengenang kebersamaan kita dengan
purnama.
“Mila, sudah malam, ayo masuk! Tidak baik terlalu
lama diterpa angin malam.”
“Iya, Ma.”
Kamu tahu? ini sudah menjadi agenda rutinku setiap
purnama, orang tuaku mulanya begitu murka saat aku berlama-lama memandang bulan
di tengah malam yang dingin hanya untukmu. Namun, kamu tahukan keras kepalanya
aku. Hingga mungkin mereka menyerah, atau mereka sedikit mengerti betapa tak
bisanya hati yang masih labil ini melupakanmu.
“De Mila, tadi Mas Wisnu telpon. Titip pesen sama De
Mila, besok Mas Wisnu jemput.”
Wisnu, ya. Dia yang dihadirkan mamaku untuk
melupakanmu.
“Iya, Bi. Nanti, Mila telpon lagi aja. Mila masuk
kamar dulu ya Ma.”
Masih ada kerut kecewa dari raut wajah mama karena
aku belum bisa memperlakukan Wisnu dengan baik. Akupun tak tahu kenapa, tapi
sulit sekali berlaku sama seperti kepadamu.
Malam ini, akan aku lalui dengan memimpikan
rembulan, karena aku tak boleh memimpikanmu.
```
“Mila?” Dengan cukup keras, Wisnu memanggil namaku,
sepertinya ini kesekian kalinya ia memanggil.
“Ya?”
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Sejak pulang dari reuni,
kamu terus melamun.”
“Tidak, Tidak ada apa-apa. Langsung pulang ya, aku lelah.”
Aku kasihan pada Wisnu, dia begitu sabar
menghadapiku. Setiap hari tersenyum untukku, setiap waktu menghawatirkanku, dan
setiap saat selalu mengerti.
“Baiklah, kita langsung pulang, kamu terlihat pucat.
Istirahatlah dengan nyaman.” Dia tersenyum berusaha memahamiku, walaupun dia
tak tahu apa-apa.
Aku tahu, saat seperti ini akan datang, tapi mengapa
datang begitu cepat. Baru saja purnama ke 5 meninggalkanku. Kini, aku tak kan
pernah bisa nyaman menyaksikan purnama-purnama selanjutnya. Aku harus mulai mengikhlaskan,
kepergian purnama dan kepergianmu yang tak kan pernah bisa diharapkan lagi.
2 hari aku terbaring sakit, dan sepanjang hari aku
melihat wajah khawatir mama di sampingku, juga raut peduli Wisnu yang begitu
setia membantuku untuk sembuh. Walau kini dia tahu, aku sakit karena orang
lain.
“Kamu harus sembuh, Mil. Kamu harus buktikan pada
dunia bahwa hal seperti ini hanya masalah kecil yang dapat kamu atasi.” Wisnu
berbisik dengan lembut.
Perlahan aku menatap wajahnya, aku melihat
kesungguhannya. Kesungguhan yang telah ada sejak lama.
“Aku akan membantumu. Aku janji.”
Aku tak bisa menahan airmataku, aku begitu bodoh
mengabaikannya selama ini hanya karenamu, yang sungguh-sungguh telah jauh.
“Cepat sembuh ya.”
Dengan tulus, Wisnu membelai rambutku, merapikan
selimutku dan beranjak pergi untuk membiarkanku terlelap nyenyak.
```
Aku tergesa-gesa menuruni tangga, mama menegurku
yang terlambat turun.
“Itu, Wisnu sudah menunggu lama di mobil.”
“Iya, Ma. Aku berangkat.”
Seakan mengerti perasaanku, mama memelukku erat dan
lama.
“Kamu pasti kuat! Bertopanglah pada Wisnu, mama
percaya padanya.”
Aku mengangguk mengerti, kulihat Wisnu tersenyum
dari balik kemudi. Aku beranjak menghampirinya.
“Siap?” Tanyanya ceria.
“Dengan usaha keras.” Jawabku. Sepertinya, aku sudah
sangat nyaman bersama Wisnu untuk tersenyum bersama.
Aku harap, kamu tidak terkejut dengan perubahanku
ini. Semoga kamu bisa tersenyum melihatku saat ini.
```
Semua mata yang mengenalku langsung
memelototiku,mereka tak berkedip memandangku. Benar kata mama, aku memang butuh
Wisnu untuk bertopang, menenangkan hatiku dan mengendalikan situasi ini.
“Mila, kamu datang?” Seseorang berteriak tak percaya
ke arahku.
“Aku pikir saat aku beri informasi ini saat reuni
seminggu lalu, kamu tak akan datang.” Tambahnya begitu sumringah.
Aku hanya tersenyum ketir.
“Kami pergi dulu ya, kami harus menyalami
pengantinnya.” Wisnu memecah kekakuan.
Langkahku berat sekali, melihat singgasana yang
mewah itu, betapa hatiku harusnya hancur. Tapi, aku tekadkan, aku punya Wisnu.
Tanganku berpegang erat pada Wisnu.
Untuk beberapa detik, aku hanya terpaku, melihatmu
yang juga terpaku memandangku. Ucapanmu saat purnama kembali terngiang.
“Aku
akan selalu bersamamu. Tak peduli apapun dan siapapun yang ingin memisahkan
kita. Aku akan selalu ada bersamamu.”
“Rio, selamat ya atas pernikahanmu.” Dengan berani
aku mengulurkan tanganku.
Sekarang, purnama itu sudah benar-benar tak ku
tunggu lagi.
Saat kamu
menjabat tanganku, aku menyadari yang sejak 5 bulan lalu tidak aku sadari.
Bahwa kamu dan purnama itu sudah mati sejak 5 bulan lalu dari hatiku.
21 Nopember 2014
AT
Komentar
Posting Komentar