Cinta Yang Tersimpan

Sepasang mata lentik milik gadis bernama Ayu kaku tak berkedip untuk beberapa detik. Tak butuh waktu lama, terlihat cairan bening memenuhi sudut mata gadis berparas bulat cabi itu. Dengan gerakan kasar, tangan kiri Ayu mengusap matanya, yang malah menimbulkan rona merah di sekitar bola matanya. Ia semakin kesal dengan semua yang di rasakannya. Sedikit meringis ia meninggalkan tempat dengan langkah tergesa.
 Apa semuanya salah ? 
Apa ini memang takdir ?
 Tapi, mengapa aku merasa tak nyaman dengan apa yang aku rasakan ? 
Apa , aku bisa merubah satu rasa ini saja ? 

 Ayu berjalan pelan dengan setumpuk buku di pangkuannya. Langkahnya seketika terhenti ketika matanya menangkap tubuh jangkung yang ia kenal sejak 11 tahun lalu. Tatapannya sendu, ia menghela nafas panjang dan kembali berjalan dengan ingatan masa lalu yang membuntuti nya.
 ~~~~~~
Pemilik tubuh jangkung itu menoleh dengan senyum khasnya lekat di wajahnya. Ayu memalingkan wajahnya yang kepergok tengah memandang lelaki yang tengah duduk di kursi taman itu. Tangan Ayu bergetar ketika melihat lelaki itu meninggalkan tempatnya dan menghampiri Ayu di koridor kelasnya. Senyumnya kembali mengembang membuat Ayu kikuk sendiri. Ia pun membalas canggung senyum Leo, si pemilik senyum ajaib itu. Hening, hanya terdengar gumaman Leo yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Ayu menunggu dengan sabar dengan masih menatap wajah dan tubuh kecil khas anak ababil itu. “ Yu,,…” akhirnya Leo bersuara. “Ya?” Ayu menjawab gugup, ia meremas ujung rok rempel merahnya. “ngngng… ini.” Leo memberikan secarik amplop berwarna biru pada Ayu. Ayu tak langsung menyambut amplop yang terlihat lucu itu. “Apa ini?” ia hanya menunjuk kertas yang masih ada di telapak tangan Leo. “ Untuk Ayu, baca aja ya…” Leo menyimpan amplop di telapak tangan Ayu dan bergegas pergi. Ayu memandangi amplop berisi surat yang kini ada di tangannya. Hatinya terasa berbunga-bunga. Wajahnya memerah. Senyumnya menyembul malu-malu.
~~~~~~ 
Apa yang dulu terpikir olehku?
 Hingga perasaan ini yang menjadi korbannya? 


Ayu membaca bukunya dengan serius. Tapi otaknya tak dapat focus pada apa yang tengah ia baca. Pendengarannya sangat terganggu. Di samping mejanya ada sekelompok adik kelasnya yang tengah bergosip ria. Bukan masalah mereka membuat keributan di perpustakaan. Tapi gossip yang sedang mereka bicarakan yang membuat pendengaran Ayu lebih focus pada obrolan adik kelasnya. Lama-lama, Ayu semakin muak mendengar percakapan mereka. Dengan sedikit tarikan nafas, Ayu berujar dengan nada tegas. “Apa tak ada tempat lain untuk menggosip hah ?” Keempat anak yang lebih muda 2 tahun dengan Ayu menatap cuek. “ Ini bukan Gosip kak Ayu. Ini real.” Ujar Mia, salah satu dari keempatnya. “ Kalaupun begitu, apa pantas ngobrol di PERPUSTAKAAN ? ini tempat BACA.” Ayu menegaskan kata perpustakaan dan baca walau dengan wajah datar. “ohhh, iya, mungkin kak Ayu syirik, atau cemburu kali..” satu diantaranya kembali berkicau. Ayu memandang ta suka pada semuanya. Tapi ia tak bisa membalas pernyataan tadi, karena hatinya pun berada dalam kebingungan. “ Nita udah ah, keluar aja yuk, kita di taman.” Mely, orang yang sejak tadi menjadi objek perbincangan keempatnya menengahi. Sepeninggal keempat adik kelasnya, Ayu termenung. Ia bercermin pada dirinya sendiri. “ Apa aku tidak lebih baik? Apa dia lebih menarik? Apa kau menyerah padaku?” gumamnya pelan, sangat pelan. Ayu sendiripun tak menyadari apa yang telah ia katakan. ~~~~~ 
Hati Ayu yang berbunga-bunga kala mengetahui isi surat yang telah di bacanya terusir oleh wajahnya yang kini bermuram durja. Entah apa yang kini ia rasakan. Tapi Nampak dari kerut di kening dan tatapan matanya, jika Ayu tengah khawatir dan bingung. Dengan menimang surat yang kini ada di tangannya, batin Ayu tengah bergejolak dalam 2 keputusan sulit. Keputusan yang sangat memberatkan logika dan perasaan. Mulut Ayu mengerucut, “Apaan sih… buat apa aku mikirin ini. Aku gak boleh main gini-ginian…” dengan sekali hentakan surat yang ada di genggaman Ayu melayang menjauhi meja belajarnya. “ Aku ini anak kelas 6 SD. Belum pantas main cinta-cintaan.” Ayu menggerutu lagi pada hatinya. Ia beranjak menutup buku yang ada di depannya. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur hello kitty biru-nya. Wajahnya kembali murung dan tersirat kebingungan dan kebimbangan di matanya.
~~~~~ 
Tangan Ayu mempermainkan ujung sarung kain bantal yang berbentuk hello kitty biru. Wajahnya terlihat sendu. Matanya menyiratkan keputusasaan. Terdengar helaan nafas yang panjang. Tubuh Ayu menggeliat membuat rambut panjangnya tertindih tubuh langsingnya. Terngiang kembali obrolan adik kelasnya saat di perpustakaan. “ Dia nembak Mely ? Dia pacaran sama Mely ? Kenapa bisa ? “ Ayu memejamkan matanya. Terbayang wajah lelaki yang menjadi objek pertanyaan. “ Apa aku terlihat buruk ? kenapa aku ? Arrgh..” Ayu mengacak pucuk rambutnya. Setelah beberapa saat hanya menarik dan mengulur nafas nya, Ayu beranjak menuju laci meja belajarnya. Ia membawa sebuah kotak dan mengeluarkan satu dari banyak benda dari dalam kotak tersebut. Amplop kecil berwarna biru dengan gambar hello kitty. Perlahan Ayu membuka amplop dan mengeluarkan secarik surat yang berwarna senada dengan amplopnya. Dengan senyum yang mengembang kecil, Ayu membaca isi surat yang telah ia baca berulang kali selama 3 tahun terakhir. Senyumnya dibarengi air mata yang mengalir keluar dari kelopak mata Ayu. “Kau, Kau sungguh jahat. Kau sungguh jahat Leo.” Setelah bergumam parau Ayu menangis tersedu – sedu.
 Kau pun tak dapat mengulangnya Pun tak berguna menyalahkan.
Yang bisa diakukan, hanya menangis dalam penyesalannya.
 ~~~~~~ 
“Yu, kamu di panggil Bu Klara di kantor. Sama Lina juga.” Teman sekelas Ayu menyampaikan pesan yang memang sudah di ketahui Ayu sebelumnya. “Iya, makasih ya! Liat Lina nya ?” Ayu bertanya balik. “Tadi sih dia mau ke WC pas bareng ke kantin.” Tanpa pikir panjang Ayu beranjak dari duduknya dengan sebelumnya membereskan buku-bukunya. “Kita bimbing anak kelas 8 ?” Lina terbelalak dengan tak henti melangkahkan kakinya semangat. “Iya,” Ayu tak henti memperhatikan jalan yang ia lewati. Sesekali ia menghindari siswa lain yang berjalan berlawanan arah. “Buat apa Yu ? aku aneh deh! Kenapa aku ikutan?” “ Buat lomba MIPA bulan depan.” Ayu menghentikan langkahnya. “ maksud kamu? Udah lah ayo!” Ayu tak memperdulikan lagi ucapan Lina. “Alifa, Mia , Nita dan Mely. Itu anak anak yang harus kalian bimbing. Lina kamu bimbing Matematika dan fisika. Ayu kamu Biologi dan Kimianya ya? Ibu percayakan ini sama kalian.” Bu klara memberikan map biru ke hadapan Lina dan Ayu. “ Ya sudah, ibu harus ke kelas lebih awal. Kalian juga cepat. Istirahat hampir berakhir.” Tanpa pikir panjang lagi Bu Klara meninggalkan ruang guru dengan menenteng buku. “Beneran nih ?” Lina seakan tak percaya. “Mely?” ayu malah memperhatikan daftar siswa yang di berikan Bu Klara. “Iya bener. Kenapa?” Lina seakan tahu isi hati Ayu. Ayu yang melihat wajah jail Lina bergegas pergi dengan alasan kelas hampir mulai. “ Yu, Ayu ngaku deh kamu cemburu kan sama Mely? Ayu!” Di perjalanan menuju kelas, Lina terus mengoceh. Langkah Ayu terhenti tepat di depan sosok yang juga menghentikan langkahnya. Lina yang sedari tadi tak memperhatikan jalan di depannya bingung melihat Ayu menghentikan langkahya dan memasang wajah kaku. “ Ada apa Ay…” Lina langsung menutup mulutnya ketika melihat Leo berdiri selangkah di depan Ayu. “ Hei Leo..” Lina melambai kecil dan langsung menarik tangan Ayu. “Kita duluan ya Yo.. Udah masuk nih!” serunya setelah beberapa langkah di belakang Leo. Leo memandang kepergian Ayu dan Lina dengan sebelah alisnya terangkat dan kedua tangannya tetap di dalam saku celananya. Setelah diam sebentar memandang tempat Ayu berdiri tadi, Leo melanjutkan langkahnya dalam diam, terus berusaha mendengar ucapan yang tadi di dengarnya dari mulut Lina. “Maaf ya Yu,,” Lina baru bisa meminta maaf akan kejadian istirahat tadi saat guru terakhir keluar dari kelas. “Udahlah jangan dibahas lagi. Kamu panggil anak-anak yang mau di bimbing gih! Di sisni aja tempatnya.”Ayu tetap sibuk membereskan buku di atas meja dan memasukkannya kedalam tas. “ Siap bos ! Tapi itu jadi permintaan maaf aku ya!” Ayu mengangguk kecil, dan Lina bergegas keluar dengan menyebut nama anak yang akan dipanggilnya. “ Alifa, Mia, Nita dan …. Mely..” ujarnya sedikit berteriak. Ayu menghentikan gerakan tangannya. “Mely..” ujarnya lirih. Ayu memandang papan tulis yang sudah putih dibersihkan. “Bagaimana kalau dia tahu. Dia tidak mungkin tahukan. Dia tidak mendengarnya. Tapi, jika dia tahupun tak apakan? Ah,, tidak tidak. Dia tidak boleh tahu. Mau ditaruh di mana mukaku…” Ayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “ Arrrrrhhhhh” dengkusnya kesal.
 ~~~~~~
Aku terluka. 
Kini aku merasakannya. 
Luka yang telah aku buat sendiri. 
Dengan melihatmu bahagia bersamanya. 

“Kak, aku bimbel dulu ya…” beberapa kali suara itu terdengar lembut. “Iya, belajar yang rajin ya supaya kamu bisa menang olimpiadenya.” Sahutan yang tak kalah lembut dari seorang lelaki yang tersenyum ramah membelai rambut gadis yang ada di depannya. “ Iya kak, kalau gitu…” ucapnya terhenti. “Apa? Sudah belajar yang bener sana…” senyumnya mengembang lagi. “Iya kak…” si gadis menjawab dengan senyum kikuk. Sepertinya ada kekakuan dengan suasana saat itu. “Yo, dia gak bakal belajar bener kalau kamu gak pergi. Dari tadi ngomongnya gitu gitu mulu. Yang ngajar juga…..” Lina menghentikan kata-katanya dan menatap Ayu sekilas. “ Udah deh gak akan konsen kalau belajar di depan orang yang lagi pacaran. Pulang sana, atau kamu juga pulang aja deh Mel… bikin BT aja…” sambungnya kemudian yang langsung dipelototi oleh ketiga teman Mely. “Iya kak, kakak pulang duluan aja ya!” pinta Mely akhirnya dengan senyum terpaksa. “Mmm, Ya udah. Kamu belajar yang rajin ya dan hati-hati nanti pulangnya…” untuk terakhir kalinya Leo memperlihatkan senyumnya sebelum ia berlalu meninggalkan kelas. “Ya udah. Kita mulai belajarnya. Ini kerjakan soal-soalnya. Nanti ada yang sulit baru tanyakan.” Ayu bersuara setelah melihat Leo benar-benar menjauh dari kelasnya.
Sesekali atau lebih aku harus menahan. 
Luka dan suka ini secara bersama memang menyesakkan.
 ~~~~~~ 
Ayu bersandar di kursi taman melepaskan lelahnya. Dia tersenyum lebar dengan wajah yang berseri cerah secerah senja di sore ini. Dengan percaya diri ia hela nafasnya kuat-kuat. Dipandangnya pohon beringin yang menutupi kursi yang didudukinya dari cahaya matahari sore. Lalu menatap ke arah koridor dimana dia berdiri 6 tahun lalu. Suasana perpisahan masih terdengar dari lapangan yang tak jauh dari taman. “ Sudah 12 tahun aku belajar di sekolah ini. Sulit untuk melupakan semua kenangan yang ada. Apalagi… Ayu menatap langit jingga sekilas dan menatap koridor kenangannya sekali lagi. Tapi, kini tatapannya berhenti, tak berkedip ketika melihat siapa yang berdiri di sana tersenyum dengan senyum ajaibnya. Ayu mau tak mau tersenyum dengan sangat manis. Ia tak mau menutupi semuanya kini. Ini adalah hari terakhirnya ada di sekolah ini sebelum pergi ke Jepang meneruskan kuliah, dan juga hari terakhirnya untuk bertatap dan saling melontar senyum dengannya. Ayu melangkah menuju koridor, dan berdiri tepat di depan sosok yang masih tersenyum. “Leo…” Panggil Ayu pelan. “Ayu…” beberapa saat keduanya hanya saling menatap. “Baru kali ini aku berhadapan langsung dan menatap senyummu yang indah itu dari dekat.” “ Ya, sekarang tak ada lagi waktu untuk gengsi dan jaim.” “Jadi,,, dari dulu, 12 tahun ini kamu jaim pada ku?” “heu’eum…” Keduanya tersenyum lagi. “Kau jahat.” “Maafkan aku kalau begitu.” “Untuk apa?” “Untuk… untuk semuanya. Inikan hari terakhir kita bertemu. Jadi aku minta maaf untuk semuanya.” “Ya, kau akan pergi jauh. Iya kan?” “Aku, aku…” “Maukah kau membawa ini bersamamu? Dan menjaganya untukku?” “Apa?” “Hatiku.” Ayu menatap tangan Leo yang mengepal di dadanya. Seketika bulir air haru keluar dari kelopak matanya. Air mata bahagia. “Maukan Yu?” Leo masih meletakkan kepalan tangannya dengan erat. Ayu menganggukan wajahnya yang diiringi air matanya yang jatuh membelah pipi cabinya. Leo tersenyum bahagia. Ia meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. “Terimakasih Yu… aku janji aku akan segera mengambilnya. Juga mengambil hatimu untuk ku jaga. Bersama.” Ayu kembali mengangguk dengan senyum yang merekah dengan masih meneteskan air mata. Ayu menggenggam erat tangannya di dada. Keduanya saling memandang bahagia dan tesenyum bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S GIRLBAND

[Review] Film A day with My Son / My son (2007)

Kuliah atau Organisasi?